Friday, December 23, 2016

LOTTE Chocopie Mengajak Para Ibu Merayakan Momen Kebersamaan di Hari Ibu



Menjadi seorang Ibu dan memiliki anak adalah suatu anugerah terindah yang setiap perempuan bisa mendapatkannya, itu adalah hadiah sekaligus kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita.

Menjadi Ibu artinya tidak sekedar melahirkan dan membesarkan anak-anak saja, tapi juga bertanggungjawab penuh atas perkembangan dan  berusaha ada untuk mereka.

Di era moderen dan dinamis seperti ini, disaat semua orang sibuk dengan dirinya sendiri dan kebutuhan hidup yang seringkali menuntut sumber penghasilan keluarga tak hanya dari satu orang, membuat banyak Ibu yang akhirnya ikut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja, dan itu artinya mereka harus meninggalkan rumah, berjarak dengan anak-anaknya.

Kenapa keterikatan emosi ini penting untuk tumbuh kembang anak? karena menurut penelitian anak yang mempunyai ikatan emosional yang bagus dengan orang tuanya terutama Ibu, akan tumbuh menjadi anak dengan kematangan emosi dan kemampuan sosial yang baik saat mereka dewasa nanti, dan faktor ini penting untuk masa depannya.

Tapi apakah Ibu bekerja artinya tidak memiliki lagi waktu untuk bisa menjalin kebersamaan dengan anak-anak mereka? tidak juga, Ibu bekerja bisa memanfaatkan waktu dengan efektif dengan menerapkan premium bonding moment saat bersama anak-anaknya, menikmati kebersamaan dengan hadir secara penuh baik jiwa dan raganya didepan anak, meski waktu yang ada tidaklah lama.

Mengingat hal ini, pentingnya menjaga kualitas hubungan para Ibu masa kini yang sibuk dan memiliki banyak kegiatan dengan anak-anaknya, mebuat LOTTE Chocopie, salah satu brand cemilan dari Jepang mengajak para Ibu ini untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan waktu bersama anak.

LOTTE Chocopie, produk cemilan kek vanila berlapis coklat ini secara konsisten memberikan beragam tips yang bermanfaat untuk menciptakan premium bonding moment bersama anak-anak kita, bahkan di hari Ibu ini secara khusus mereka mengadakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kedekatan Ibu-anak.

Acara yang berupa kompetisi dengan tajuk "Mother's Day Bonding" ini sudah berjalan dari 21 November 2016- 21 November 2016 diikuti oleh banyak sekali peserta yang mengirimkan foto lewat situs www.lottechocopiemothersday.com  yang menggambarkan kedekatan dengan si anak.

"Sesuai dengan komitmen LOTTE Chocopie yang terus berupaya memberikan inspirasi dalam mempererat kebersamaan keluarga Indonesiadan menciptakan momen keterikatan yang hangat dan berkualitas atau premium bonding moment, berbagai kegiatan telah dilakukan di sepanjang tahun ini, dan untuk merayakan Hari Ibu, LOTTE Chocopie mengajak para Ibu Indonesia untuk mengisi momen-momen keterikatan spesial dengan anak melalui upaya mudah dan praktis walau terbentur dengan keterbatasan waktu"
Oci C Maharani, Brand manager LOTTE Indonesia.
Berkenaan dengan kegiatan ini maka beberapa hari lalu digelar acara media gathering, di pembuka acara Mr.Yasuke Kawabata selalu Marketing Manager Lotte Indonesia mengungkapkan konsistensi brand LOTTE Chocopie yang senantiasa mengajak para Ibu untuk menjalin keterikatan emosi yang baik dengan anak-anaknya untuk asa depan yang baik buat mereka

Mr.Yasuke Kawabata


Dan di acara itu juga hadir dua sosok Ibu yang juga pekerja seni yang memiliki banyak sekali kegiatan, yaitu Mona Ratuliu dan Maudy Koesnadi yang berbagi pengalamannya dalam menciptakan waktu-waktu yang mendekatkan mereka dengan anak-anaknya.

Mona Ratuliu sangpenulis buku ParenThink mengungkapkan kalau ada premium bonding momen bisa dengan tercipta saat kita hadir secara utuh didepan anak kita, tanpa ada embel-ebel atau tntutan acam-macam, hadir secara utuh artinya benar-benar raga dan jiwa kita bersama mereka, lupakan sejenak segala macam tanggungjawab dan menikmati kebersamaan dengan anak-anak kita akan membuat kedekatan yang bagus Ibu dan anak.

Sedang Maudy Koesnadi mengaku kalau banyak cara yang bisa ditempuh dalam upaya menciptakan kedekatan dengan anak tunggalnya, yang memang sedang berada diusia preteen dan biasanya mereka sudah banyak memiliki kegiatan sendiri, tapi dia selalu menjaga kulaitas hubungan yang baik dengan anaknya, meski waktunya terbatas.

Sebenarnya banyak hal bisa kita lakukan dalam menciptakan waktu berkualitas bersama anak, contohnya dengan menghabiskan waktu bersama dengan berkreasi menggunakan benda-benda atau bahan sederhana, salah satunya berkreasi dengan LOTTE Chocopie, anak- anak akan menikmatinya karena memang pada dasarnya cemilan ini disukai anak-anak.

Inspirasi ini saya dapat saat mengikuti acara media gathering kemarin, disalah satu pojok ruangan disediakan space khusus untuk berkreasi dengan LOTTE Chocopie, bahan yang digunakan sederhana, hanya butter cream, aneka coklat tabur dan permen serta buah yang biasa kita temui dirumah, tapi proses berkreasi itu yang membuat saya berpikir kalau anak-anak pasti menikmatinya.

Pojok Kreasi Lotte Chocopie


Hasil kreasi LOTTE Chocopie buatan saya.

Dan akhirnya siapapun kita, apapun pekerjaan kita, kita tetaplah seorang Ibu yang kehadirannya selalu membuat bahagia anak kita, kita adalah Ibu yang akan menentukan bagaimana warna masa depan anak kita, kita adalah Ibu yang setiap pelukannya berarti semangat buat anak kita, 

Selamat Hari Ibu, semoga cinta kita menyamankan anak-anak kita.











Tuesday, December 13, 2016

Para Orang Tua "Kolektor Diagnosa"


Punya tiga anak berarti punya tiga pengalaman kesehatan berbeda tiap anak, itulah yang saya alami, dan artinya pula berkali-kali menjadi penerjemah kata-kata Dokter untuk saya sendiri.

Sebagai orang tua pastinya ingin yang terbaik donk buat anaknya, ingin anaknya tumbuh sehat, pintar dan baik-baik saja, jadi saat menemukan hal yang agak melenceng dari garis milestone tumbuh kebang anak bawaanya kuatir aja.. padahal tiap anak memilki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang yang tidak sam a antara anak yang satu dengan yang lain.

Saat punya anak pertama sekitar 15 tahun yang lalu, saya merasa si kecil koq kayaknya lebih kurus dibandingkan anak lain, padahal asupan gizinya cukup, akhirnya saya bertemu beberapa dokter anak dan diagnosa tiap dokter berbeda dokter A mengatakan bisa jadi ada yang salah dengan pencernaanya, dan dokter B bilang kalau anak cenderung kurus biasanya pernafasan atau paru-parunya terdapat flek, nah bingung kan? *Hayati lelah.

Pun saat memiliki anak ketiga, keadaan seperti ini berulang lagi, apalagi kali ini masalahnya lebih serius, Hania anak ketiga saya memilki keterlambatan perkembangan, salah satunya terlambat bicara, dan ini membuat saya kembali berpetualang dan bertemu dengan banyak dokter anak.

Dan ternyata saya tidak sendiri mengalami hal ini, kami para orang tua ini bisa disebut “kolektor diagnosa” setidaknya itu yang saya tangkap saat ngobrol-ngobrol dengan para orang tua disalah satu grup chating sesama Blogger, para Mom Blogger yang notabene lebih aware tentang kesehatan anak ternyata juga punya kekuatiran akan perekembangan anak-anaknya, apalagi kami juga sering mendapat informasi kesehatan dari pihak-pihak yang kompeten saat mengikuti berbagai event yang kami liput, makin jadi deh kekuatirannya, anakku sudah sesuai enggak yah dengan umurnya? atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berhubungan dengan itu.

Semakin banyak tahu, semakin banyak kuatir, mungkin itu yang bisa saya gambarkan, saat kita tahu kalau 1-1,5 tahun seharusnya sudah menguasai beberapa suku kata, dan begitu saya tahu Hania di usianya sudah masuk tahun ke 3 belum juga lancar berkata-kata maka kuatirlah saya, tapi untungnya orang yang banyak tahu juga membuatnya lebih mudah menentukan langkah, setidaknya saya tahu harus kemana saya berkonsultasi.

Dan bertemu dengan beberapa dokter bukan masalah gampang lho.. kembali mengalami seperti anak pertama, dokter tumbuh kembang pertama yang saya temui mengatakan kalau Hania mengalami pemendekan lidah, jadi seharusnya ada terapi khusus, tapi itu hanya bisa dilakukan saat si anak masih di bawah satu tahun, jadi dilakukan semacam bedah kecil di bawah lidah agar lidahnya bisa bergerak bebas.

Lain dokter, lain diagnosa, setelah dokter pertama mengatakan kalau lidah Hania pendek, artinya yang bermasalah adalah organ tubuh yang digunakan untuk berbicara, naah.. dokter anak selanjutnya yang saya temui malah mencurigai kalau ada yang tidak beres dengan struktur otak Hania, karena beberapa tahun sebelumnya saya pernah mengalami keguguran akibat virus Rubella.

As a Mom atau Emak yang bingung apalagi ditambah informasi yang liar banget dari berbagai sumber, manambah kebingungan saya.

Tapi saya sadar, kalau dokter boleh menegakkan diagnosa dan memberikan saran, tapi kitalah Orang tuanya, yang 24 jam bersamanya, tahu betul bagaimana perkembangannya, bukan berarti diagnosa-diagnosa itu tidak saya anggap, tapi malah saya jadikan dasar bagaimana menangani Hania.

Saya menjalankan terapi wicara, juga melakukan massage untuk melancarkan bicaranya, karena dokter anak yang pertama mengatakan bisa jadi keterlambatan bicara Hania berasal dari kesalahan organ bicaranya, dan saya juga melakukan cek darah di laboratorium untuk memastikan masih ada tidaknya virus yang berbahaya pada tubuh Hania akibat keguguran saya dulu, sesuai anjuran dokter anak yang juga saya temui.

Jadi begini.. dalam hal tumbuh kembang anak ini kita sebagai orang tua dituntut agar lebih pintar dan tepat menentukan langkah tindakan untuk anak kita, karena biasanya dokter hanya memberikan opsi pilihan atas apa yang harus kita lakukan.

Kita ada waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu menganalisa tumbuh kembang anak kita, ini berlaku juga buat Ibu bekerja yah.. karena meski berjauhan biasanya masih tetap memantau, jadi pergunakan waktu itu untuk menganalisanya, dan tentukan mana yang terbaik buat anak kita.

Friday, December 2, 2016

Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Ajaib Anak


Masa anak-anak adalah masa dimana mereka ingintahu tentang semua hal, di masa ini para orang tua bakal sering ketemu pertanyaan-pertanyaan ajaib dari mereka

Tapi pernah enggak sih kita merasa mati gaya saat mnjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, apalagi yang bersinggungan dengan hal-hal sensitif.

Ada seorang teman yang nginbox ke saya dan curhat, kalau suatu hari anaknya bertanya

“ Mama koq mandinya pagi banget sih? Ga dingin..? “

Enggak mungkin donk kita jawab, Mama habis “melakukan” hal itu Nak, jadi kalau mau sholat subuh yah harus mandi, waduuh .. pasti selanjutnya mereka akan bertanya lagi “ melakukan apa?” Nah lhooo...

Jadi saran saya sih kita lebih santai aja menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam ini enggak usah terlalu detail, tapi kalau bisa jangan memberikan jawaban yang semakin membuat mereka penasaran, sok tahu yah saya..? hehe tapi paling tidak itu berhasil pada saya saat mendapat pertenyaan yang sama dari si sulung waktu dia masih seusia anak teman saya ini ( 8 tahunan, sekarang si sulung sudah berusia 15 tahun)

“ Mama harus mandi donk, kan kalau kita mau sholat subuh harus bersih dan suci dari hadast besar dan kecil”

Udah.. sampai situ saja? Iya sampai situ saja, karena bertambahnya usia juga bertambahnya pengertian lewat pelajaran agama di sekolahnya dia akan mengerti dengan sendirinya.

Jangan pernah menjawab “Mau tahu aja.. kamu kan masih kecil!”

Tahu enggak bahayanya kalimat itu ? begini, saya punya satu cerita.
Saat itu anak kedua saya Ali saat usianya 8 tahunan pernah bertanya tentang apa itu mimpi basah, entah karena lagi enggak mood atau memang sedang banyak pikiran, tak bisa dipungkiri kan kalau menjadi seorang Mama itu kita juga sering berada dalam kondisi yang sedang kurang baik dan dengan sekenanya saja saya jawab “ udah lah.. entar aja, lagian kamu masih kecil ini”

Dan apa yang terjadi dua hari kemudian dia kembali menanyakan pertanyaan yang sama, tapi ada yang mengejutkan saya, karena ada kalimat

“ Kalau Mama ga tahu ga papa.. entar ada si A yang katanya mo jelasin, di internet banyak”
Sambil nyebutin nama si A itu yang usianya jauh lebih besar dari dia.

Kaget lah saya.. entah jawaban apa yang akan Ali dapatkan dari “teman besarnya” itu, dan pengaruh apa yang bakal diterimanya.

Akhirnya pelan-pelan saya jelaskan padanya, dan juga mewanti-wantinya agar hanya main dengan teman yang sebaya atau sekelasnya saja, saya jelaskan tentang mimpi basah ini dan apa yang harus dilakukan saat mengalaminya.

Jadi kesimpulannya usahakan kita menjadi sumber referensi utama mereka tentang apapun dan kapanpun, jangan sampai dia mencari jawaban dari sumber yang enggak jelas dan malah menyesatkan atau memberi pengaruh buruk .



Saat anak bertanya tentang status

Ini juga lumayan sensitif apalagi hal-hal yang seperti ini menyangkut privasi orang lain, seperti kenapa Mama-Papanya si Anu itu enggak tinggal serumah yah? kenapa Tante yang dekat rumah kita itu enggak ada anaknya? 

Pernah suatu hari seorang teman datang kerumah dia seusia dengan saya, dan masih single, tiba-tiba hasnah yang waktu itu masih kecil bertanya 

"Tante kn sudah segede Mama yah.. koq enggak jadi pengantin?"

Waduh.. saya bingung sekali menghadapinya, dan tamu saya itu hanya mesam-mesem kecut aja, mungkin juga sambil batin " nih anak ada aja pertanyaanya, Emaknya ngajarin apa sih?"

Hahaha.. tapi itu hanya perasaan saya saja lho, saya menghargai keputusan akan jalan hidup siapapun dan tak pernah mempermasalahkan status seseorang, itulah mengapa saya agak risih juga saat mendengar ada orang yang sudah menikah bertanya dengan sengaja kepada si single dengan pertanyaan-pertanyaan cetek seperti 'kapan nikah ? 'kapan nih undangannya? kecuali kalau memang orang itu sudah terlihat mantap dengan kekasihnya, itu lain cerita.

Saya juga menghormati pilihan tiap orang mau menikah muda dan langsung punya anak itu hebat namun memutuskan untuk tetap sendiri dan lebih fokus pada karir dan pekerjaan itu juga luar biasa tidak ada yang salah menjadi seorang single asal tetap bertanggung jawab atas dirinya.

Karena biasanya ada hal-hal seru yang bisa kita lakukan saat kita masih menjomblo, seperti traveling ketempat-tempat yang ajib, kalau sudah punya anak ga bisa emang ? bisa sih tapi biasanya harus itung-itungan dulu kadar hepi yang bakal didapat dengan kerempongan yang akan dihadapi.

Selain bisa bebas bertraveling ria kemana saja saat masih single, sekali lagi nih.. saya enggak pernah bilang kalau sudah beranak *eh kita ga bisa kemana-mana, beberapa teman Blogger saya malah bisa berkeliling dunia bersama anak-anaknya yang kadang masih balita,meski memang harus ekstra persiapannya, masih ada satu lagi nih yang membuat status single lebih menyenangkan, yaitu bisa bebas berbelanja, apalagi yang sudah mempunyai penghasilan sendiri, istilahnya bebas pakai uang sendiri.

Saat masih sendiri dulu, artinya belum menikah, aktiitas berbelanja selalu menyenangkan, padahal waktu itu masih belum banyak pilihan berbelanja, apalagi berbelanja online, kalau sekarang berbelanja itu, apalagi berbelanja online sudah seperti masuk dunia impian, berselancar mencari style fashion terbaru atau pernak-pernik yang bikin penampilan makin kece bisa jadi hiburan tersendiri, ga berlebihan kayaknya sampai-sampai ada hari khusus yang didedikasikan untuk kegiatan berbelanja online ini, yaitu HARBOLNAS (Hari Belanja Online Nasional) di momen spesial itu banyak Online Shop yang memberikan diskon besar dengan koleksi yang lebih lengkap, salah satunya seperti OS ini nih..

Kembali ke laptop... jadi kalau pas ketemu kasus yang seperti ini, anak memberikan pertanyaan ke orang tak terduga kembali lagi tipsnya, jangan panik dan lebay, jelaskan ke mereka kalau memang tante itu masih pengen sendiri, kan masih harus kerja.

Jadi kapanpun kalau anak-anak memberikan pertanyaan-pertanyaan ajaib hal pertama yang perlu kita lakukan adalah tenng, jangan panik dan jelaskan sebatas yang mereka ketahui saja.