Thursday, December 31, 2015

Berusaha Menghindari Jadi Orang Tidak Nyaman di Mata Anak




“ Ma.. masa temenku kalau pulang sekolah langsung main ke warnet ”

“Ma.. si Andi itu kan pacarnya Nova”

Banyak sekali informasi yang saya dapat dari anak kedua saya Ali, 10 tahun. Kalau biasanya anak seumurannya punya masalah mengungkapkan perasaanya atau apa yang ada di pikannya kepada orang tuanya, tidak dengan Ali, saya bahkan kadang mengobrol hal-hal yang lumayan sensitif bersamanya.

Sifat Ali sebenarnya cukup tertutup dia hampir tak mau berbicara dengan orang yang dia anggap “orang  tidak nyaman”, dan saya beruntung ternyata saya bukan termasuk “orang tidak nyaman” versi dia. Ali bebas bercerita apapun tentang apa yang ada dihatinya, keinginannya atau mimpi-mimpinya.

Tapi teteup yah.. sebagai orang tua dari anak menjelang abege atau istilahnya preteen yang udah ngintip-ngintip masa pubernya berbagai macam ketakutan seperti memanggil-manggil, dan saya yakin mungkin juga banyak Emak diluaran sana yang mempunyai masalah seperti saya, kekuatiran muncul setiap saat anakku ngerokok enggak yah?.. anakku di warnet nonton BF enggak ya?.. anakku jadi korban bulliying ga ya? dan masih banyak kecemasan yang sering bikin pusing, apalagi kalau enggak sengaja nonton atau baca berita yang lumayan nambah kadar was-was kita.

Meski sebagian besar waktu Ali dihabiskan di sekolah dari jam 07.00- 15.00 , dan menjelang maghrib sampai Isya’ dihabiskan di pesantren dekat rumah, tapi di Sabtu- Minggu dia free.. bukannya mau jadi Ibu yang overprotected sih sebenarnya, tapi yah namanya hati siapa yang tahu.

Anak seusia Ali, 10 menjelang 11 tahun merupakan masa kritis sebenarnya, apalagi perkembangan teknologi informasi yang seperti sekarang yang membuat banyak anak matang sebelum waktunya, emosinya kadang meledak-ledak atau bahkan sama sekali tak mau dikeluarkan, saya jadi ingat kasus beberapa anak yang menjadi korban sodomi, mereka rata-rata seusia Ali, kasus terbongkar biasanya saat sudah banyak jatuh korban dan berlangsung lama, mereka takut menceritakan kejadian yang menimpanya bisa karena takut atau menganggap banyak “orang tidak nyaman”  di sekelilingnya.

Bukan bermaksud sok tahu tapi saya ingin berbagi tips agar tidak menjadi  “orang tidak nyaman” dimata anak, terutama si jagoan yang menjelang puber ini, ini hanya berdasar pengalaman pribadi saja..

  1.  Jangan bersikap berlebihan saat ngobrol dan menemukan fakta yang mengejutkan kita sebagai orang tua, sikap yang berlebihan akan membuat mereka menghentikan komunikasi dengan kita, seperti saat saya mendengar dari Ali kalau salah satu temannya bawa komik porno, saya tak lantas heboh “ Ya.. Allah, koq bisa sih.. trus kamu lihat ya? Lihat..?” dan teriak-teriak ala sinetron, saya jawab santai aja.. padahal hati berkecamuk ciie berkecamuk, dengan sikap seperti itu saya dapat lebih banyak keterangan, dan akhirnya saya tahu apa yang mesti diperbuat.
  2. Saat anak lagi tak mau bicara tak usah dipaksakan, beri mereka ruang, ilmu ini saya dapat dari seorang Psikolog di suatu event sharing, pernah suatu hari Ali pulang kerumah mukanya dilipat udah kayak uang seribuan kembalian dari Abang tukang sayur, kusut banget, dia Cuma diam dan duduk di sofa, hati sebenernya penasaran banget, tapi saya tahan kekepoan ini, dan bilang ke dia “ Li.. Mama siapin makanan di meja makan yah.. kalau mau ngobrol, Mama di dapur” dengan begitu dia akan merasa kalau Mamanya tidak terlalu mencampuri urusannya tapi selalu ada buat dia, dan itu biasanya efektif lho buat ngekepoin anak.
  3. Jadi Parent dan Partner sekaligus, menjadi “orang tidak nyaman” buat si anak biasanya terjadi saat orang tua merasa kalau anak itu adalah miliknya dan dia merasa tahu semuanya tentang anaknya, dan itu membuat anak enggan mengungkapkan perasaanya, , kita tak harus berlagak jadi temannya dan ikut-ikutan bahasa mereka, itu malah membuat kita kehilangan nilai kita sebagai orang tua, tapi berusaha menjadi teman baik si anak akan membuat mereka nyaman curhat ke kita, orang tuanya.
  4. Jangan bocorkan rahasia mereka, ini penting lho.. anak akan sangat tersiksa kalau mereka mendengarkan kita membicarakan apa yang sudah dia ceritakan ke kita, itu seperti sebuah pengkhianatan, lebih baik langsung bertindak bila anak menceritakan suatu hal yang memang perlu diambil tindakan, seperti saat dia bercerita tentang bulliying atau tindakan tak senonoh yang diterimanya.

Semua tips diatas murni berdasar pengalaman pribadi saya, kalau ada teman-teman yang mempunyai tips yang lebih efektif untuk membangun komunikasi dengan si preteen ini silahkan dibagi, apalagi yang sudah lulus dari ujian menhadapi si anak ini, karena menjadi orang tua artinya belajar tanpa akhir.

15 comments:

  1. Makasih mba tipsnya. Aku dihinggapi kecemasan yang hampir sama padahal anakku masih balita dan belum mulai sekolah lagi.

    ReplyDelete
  2. Makasih tipsnya. Mak. Anakku 2 tahun lagi seumuran Ali nih..itu udah masuk praremaja ya. Padahal kayaknya dia masih kecil :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau buat kita anak2 rasanya masih kecil terus yah Mbak...

      Delete
  3. anak-anak juga punya rahasia, yang wajib kita jaga privacynya ya

    ReplyDelete
  4. jadi org tua jaman sekarang
    tantangannya lebih berat
    kita musti tahu ilmunya
    salam Mbak Lubena

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju Mas Agung.. tantangannya memang lebih berat.

      Delete
  5. setuju banget sama tip nomor satu mba, aku pun begitu sama si abang, kalo dia menyampaikan sesuatu yang bikin kaget, saya berusaha tenang meski pun aslinya deg2an ;p

    makasih ya tip2nya :)

    ReplyDelete
  6. Mengasuh anak memang harus bijak. Bak memegang seekor burung. Kalau terlalu ketat nggak bisa bernafas, kalau longgar terbang.
    Orangtua harus punya art and science dalam asah, asuh, dan asah anak.
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener Pak De..kata orang Jawa "Diculne tapi dicekeli buntute"..

      Delete
  7. anak emang harus di asuh dengan baik dan bijak ya mbak

    ReplyDelete
  8. Mendidik anak memang susah2 gampang, kitanya harus punya kecerdasan yang baik, baik IQ, spiritual maupun emosi.... hihi.learning by doing deh akhirnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju.. kadang saya juga belajar banyak dari anak-anak malah.

      Delete