Laman

Tuesday, October 17, 2017

Film My Generation yang Katanya Suara Hati Kids Jaman Now



Jujur..sebeneranya saya tidak begitu aktif menonton film, kecuali yang sudah ditayangkan di televisi di jam 7.30 malam, apalagi sejak punya anak Hania, yang memang hiperaktif, membayangkan masuk gedung bioskop saja saya sudah parno duluan, jadi kalau nantinya ulasan saya ini dianggap kurang "jleb" yah mohon maaf aja.. 

Tapi melihat banyaknya yang memajang trailer film ini membuat saya jadi sedikit tergelitik untuk membahas  tentang film yang katanya menyuarakan hati para kids jaman now ini, masalahnya saya juga punya 2 anak remaja, 16 tahun dan 13 tahun, yang memang kalau dilihat dari segi usia,  hampir sama dengan anak-anak di film ini.

Gambaran anak-anak remaja yang memang sudah sangat terpengaruh hidupnya dengan sosial media dan internet,  dan menganggap ketenaran disana adalah segalanya sepertinya lumayan tersampaikan sih di film ini, meskipun diceritakan kalau akhirnya apa yang nereka lakukan di media sosial ini ternyata memberi banyak efek buruk buat mereka. 

Film garapan Upi, sutradara yang juga manggarap ilm 30 Hari Mencari Cinta ini memang terkesan sangat berani, paling tidak itulah yang ada dalam pikiran saya, pas lihat trailernya yang mempertontonkan beberapa adegan yang terkesan fulgar buat saya, seperi adegan  ciuman dari  pemerannya yang masih ijo, saya jadi membandingkan dengan anak gadis saya sendiri, yang  keluar habis Isya' aja saya anterin.

Trailer film yang diawali dengan monolog pemeran-pemaran utamanya Zeke, Konji, Suki dan Orli yang semuanya diperankan pemain pendatang baru, dan memang terlihat masih sangat fresh, ini mungkin bisa jadi salah satu daya tarik dari film ini, kebanyakan penonton memang sudah mulai agak bosan dengan pemain-pemain film yang juga wara-wiri di sinetron, meski Upi mengatakan lumayan susah juga mengarahkan anak-anak ini, karena memang minim pengalaman, monolog yang ditampilkan sepertinya ingin menceritakan seperti apa film ini nantinya. 

Beberapa adegan ditrailer ini terkesan agak aneh, mungkin kalau buat saya yah.. corat-coret mobil, atau teriak-teriak di atas balkon pakai bahasa Inggris, mungkin saya yang kuno, tapi pas saya nanya ke anak saya dia juga nganggep itu aneh, dia juga sering nulis artikel atau puisi bahasa Inggris tapi berteriak di balkon pakai bahasa Inggris tetap aja aneh.

Mungkin gambaran kids jaman now di film ini adalah anak-anak dari golongan atas yang para orang tuanya kepalang sibuk dan tak pernah punya waktu buat anaknya, mereka juga bukan orang tua yang asyik sepertinya, dan hanya ingin menjadikan anak-anaknya seperti mereka, lha wong digambarkan mereka sendiri itu produk gagal koq di trailer film ini.

Entah anak Jakarta bagian mana yang diangkat di film ini, mungkin anak para ekspatriat, karena kebanyakan mereka bermuka bule, tapi anehnya pemeran para orang tuanya wajahnya Indonesia banget, sebut saja Joko Anwar, atau Surya Saputra.

Sang sutradara mengatakan kalau film ini adalah suara hati para remaja saat ini, lengkap dengan segala kontradiksi, pencarian jatidiri,  pubertas  dan hasratnya, sesuai dengan hasil risetnya selama 2 tahun dan melibatkan banyak pihak, termasuk masuk dan menjadi "remaja" itu sendiri ke beberapa akun media sosial mereka,  riset yang dalam itu mendapat banyak gambaran bagaimana pemikiran kids jaman now,  meski dibeberapa fakta saya sempat tercengang dan nggumun. 



Alur ceritanya yang saya baca sekilas dari akun Instagram yang memang khusus dibuat untuk film ini,  adalah cerita tentang para remaja ini yang mendapat masalah gara-gara mebuat video yang mengkritik para orang tua dan guru di sekitar kehidupan mereka.

Intinya dari film ini adalah semacam bentuk protes anak-anak ini kepada sekitar, mereka seperti ingin berteriak "gue maunya ini..!!! " .

With Upi sang Sutradara


Tapi mungkin karena saya belum melihat film ini secara utuh, dan hanya trailernya saja, jadi saya masih lumayan penasaran juga sih, apa yang bakal terjadi dengan mereka dan bagaimana para orang tua ini bakal menyikapi tingkah anak-anak ini, sepertinya masih harus menunggu, karena film ini baru diputar tanggal 9 November nanti di bioskop.







Kalau film ini dianggap ingin menyampaikan pesan moral agar remaja diberi kebebasan berekspresi mungkin memang harus kita hargai, tapi kalau buat saya film ini lebih seperti peringatan, bagaimana kita memperlakukan anak-anak kita, tempatkan mereka dilingkungan yang baik, tempakan moral dan agama yang kuat agar mereka punya rambu-rambu yang bekerja di alam bawah sadar mereka dan ini bisa menghindarkan mereka dari perbuatan yang buruk, dan perlakukan mereka sebagai amanah yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan bukan sebagai aset yang hanya ditunggu hasilnya.

Para pemeran utama film My Generation





9 comments:

  1. Ulasan yang daleemm banget dari seorang ibu, kereen euy. Aku juga penasaran gimana film ini sebenarnya, apakah benar2 menyampaikan apa yg harus diperbaiki?

    ReplyDelete
  2. Wah...sebentar lagi nih filmnya yah ... Catet tanggalnya ah...

    ReplyDelete
  3. Awal Nopember.. ekspektasi saya terhadap film ini lumayan tinggi semoga tidak mengecewakan ya :)

    ReplyDelete
  4. Entah kenapa aku nganggap crt nya ga gtu bgs, jd inget dulu film virgin yg katanya dulu jg dianggap gambaran anak2 masa kini, tp wkt itu aku ga merasa ada didunia spt film virgin itu.namanya jg film yaa..ngejar rating, tp inti crt nya mirip2lah kl mnrt aku hahaha.. Mgkn aku salah yaa.. Krn beda zaman, beda masalah, tp intinya sama aja.

    ReplyDelete
  5. Akhirnya generasi millenial bisa membuka suara hati bisa terlihat dan terbuka dengan adanya film ini.

    ReplyDelete
  6. Bikin penasaran deh, pingin nonton langsung di Bioskop film my generation. Seru kyaknya nonton rame-rame ya kak, apalagi kalau di kasih free tiket. Hehhehe

    ReplyDelete