Laman

Saturday, June 11, 2016

Puncak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Suarakan Kebenaran untuk #TolakJadiTarget



Banyak sekali pendapat dan presepsi yang keliru yang menyebar dan diyakini dimasyarakat kita tentang rokok, salah satunya ada yang mengatakan kalau rokok membuat rileks dan memunculkan inspirasi.. hey.. itu sama sekali tidak benar.

Yang benar adalah candu pada rokokyang mampu menekan perasaan stres dan tidak nyaman, ingat hanya menekan bukan menghilangkan, sama seperti air yang dipaksa berhenti mengalir dan nantinya akan meluber kemana-mana seiring berjalannya waktu bersama dengan penyakit yang menyertai penderitanya, serem kan...

Itulah kenapa beberapa waktu yang lalu saya mengikuti acara puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diadakan di taman Ismail Marzuki  31 Mei 2016.

Acara yang dihadiri beberapa tokoh penting seperti Arist Merdeka Sirait (KPAI), Mohammad Subuh MPPM, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, perwakilan dari Gubernur Jakarta Basuki Cahaya Purnama, Perwakilan Komisi IX DPR RI dan banyak tokoh besar lainnya.

Bapak H Mohammad Subuh menyatakan kalau Indonesia sudah berada di titik yang mengkhawatirkan dalam hal konsumsi produksi tembakau terutama rokok.

Yang lebih memprihatinkan karena ternyata sasaran para produsen rokok ini mulai dari usia yng sangat belia sekitar 10-14 tahun, itulah mengapa Indonesia dikenal luas sebagai Baby Smoker atau warga dengan usia perokok paling muda, miris memang tapi begitulah kenyataannya, dan masih menurut data statistik jumlah perokok di Indonesia setiap tahun semakin meningkat terutama untuk generasi mudanya, sekitar 3X lipat, dari hanya 7,1% ditahun 1995 menjadi 20,5% di tahun 2014 dan khusus di usia 10-14 tahun meningkat hingga 100% yaitu 8,9% (1995) menjadi 18% (2013)

Saya yang hadir di acara itu sedikit begidik begitu gencarnya para produsen rokok itu menjerat anak-anak kita untuk menjadi perokok aktif dan menjadi pelanggan setia mereka, langsung keingetan dengan Ali anak kedua saya yng sekarang usianya 11 tahun, iklan yang menunjukkan hal-hal hebat dan melambungkan imajinasi anak-anak selalu melekat pada image iklan rokok.

Kalau para produsen rokok itu gencar mengkampanyekan rokok mereka, kita sebagai warga masyarakat sudah seharusnya juga gencar menyuarakan kebenaran dan tegas mengatakan #TolakJadiTarget salah satu tagline yang diusung untuk mengajak terutama generasi muda agar mau menghindar dijadikan target pasar rokok mereka.

Acara yang diisi dengan beberapa sambutan dan penampilan pantomin  yang mengangkat tema bahaya merokok dan dampaknya bagi kesehatan tubuh si perokok dan orang-orang disekitarnya.

Selain itu ada dua talkshow interaktif yang digelar di acara ini yang pertama mengangkat tentang isu tingginya konsumsi rokok di Indonesia, dialog ringan tapi berbobot ini juga mengetengahkan usaha pemerintah dalam mempersempit ruang gerak para perokok dengan semakin meluaskannya area bebas asap rokok.

Dialog interaktif yang kedua menurut saya lebih greget karena menghadirkan beberapa tokoh yang salah satunya bekas pendukung gerakan "ayo merokok" yaitu Om Sam Bimbo, yang dulu pernah menjadi brand ambassadornya salah satu merek rokok selama 12 tahun, juga ada Bapak Aris Merdeka Sirait yang mengusulkan dihapusnya semua iklan rokok di televisi maupun papan iklan dijalanan, juga turut serta dalam diskusi itu perwakilan Komisi IX DPR dan sang Bapak Bangsa Buya Syamsul Ma'arif .

Di sela-sela acara juga hadir penampilan Om Sam Bimbo yang menyanyikan lagu-lagu religinya yang masih selalu enak didengar, juga ada penampilan Bapat Taufiq Ismail yang membacakan puisi " Tentang Angka-Angka" satu puisi yang menceritakan bahayanya merokok dibanding dengan narkoba dan minuman keras namun banyak yang tak menyadarinya, karena rokok masih mudah didapat dan sangat murah.

Dialog interaktif

Sebenarnya secara pribadi saya sedikit ngilu mengikuti acara ini, banyak sekali ditampilkan gambar beberapa penyakit yang diakibatkan oleh siasap rokok ini mulai dari kanker mulut, kanker paru-paru, kanker laring dan masih banyak yang lainnya, tapi saya sadar kalau saya memang harus tahu hal ini dan sebisa mungkin menyebarkannya dan semakin kuat tekad saya untuk ikut menyuarakan kebenaran tentang bahaya asap rokok, paling tidak lewat tulisan.

Bapak Taufiq Ismail membacakan puisi.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2016 ini di peringati dengan beberapa rangkaian acara sebelumnya, seperti lomba menggambar disekolah-sekolah dan lomba gerak tari dan lagu CERDIK atau usaha hidup sehat, dan di acara puncak itu juga merupakan acara penyerahan hadiah untuk para pemenang lomba-lomba itu.

Usai acara, saya sempat berpikir kenapa tidak menutup saja semua pabrik rokok yang ada di Indonesia ini, banyak yang bilang itu mustahil tapi bukan tidak mungkin kan?


6 comments:

  1. Betul mbak... tutup aj pabriknya. Yang diberantas akarnya sekalian... salam kenal blogger bekasi :)

    ReplyDelete
  2. Rokok ini memang polusi banget deh, apalagi tuh yang suka ngerokok di angkot. Kalau masih banyak pabrik rokok, memang susah ya. Untungnya suami saya ga merokok, jadi dompet aman hehe

    ReplyDelete
  3. foto bareng pak taufiknya mn mba ga dipajang hehe

    ReplyDelete
  4. Ampun lah, saya sendiri mengalami bagaimana sulitnya untuk membuat sadar perokok aktif, apalagi mereka-mereka ini termasuk orang saya sayangi. Akhirnya, cuma bisa berdoa semoga tidak terkena penyakit yang mengerikan.

    Dan rasanya dunia tanpa polusi rokok kayanya enak banget, semacam menjadi dunia yang nyaman.

    ReplyDelete
  5. menyadarkan perokok aktif itu gampang2 susah, dulu saya merokok, setelah berkeluarga alhamdulillah bisa berhenti. :D Semua tergantung niat masing-masing pribadi. - Adi

    ReplyDelete