Minggu, 13 Maret 2016

Rubella itu Menghentikan Angan Kami




Kembali menjadi seorang Ibu ( lagi ) sepertinya selalu membawa  kebahagiaan tersendiri buat setiap perempuan .
Kembali merasakan hamil
Kembali merasakan jadi perempuan yang dituruti segalanya dengan alasan ngidam
Kembali jadi “boleh” melakukan hal-hal aneh dengan alasan ngidam juga
Kembali merasakan merawat dan memandikan bayi mungil yang sembilan bulan lagi hadir.
Dan semua  itu hanya perempuan yang bisa merasakan, kebahagiaan yang  tak terkira kalau boleh saya bilang.

Dan itulah yang saya rasakan waktu itu saat dokter menyatakan saya mengandung anak kedua, setelah anak pertama saya Hasnah berusia 3 tahun 4 bulan.

Berbagai pelengkap kebahagiaan sudah saya dan suami persiapkan mulai dari angan-angan jenis kelamin anak, nama anak hingga dimana saya akan melahirkan, karena anak sebelumnya saya pulang  kampung dan tinggal di Surabaya selama 6 bulan untuk lahiran.

Namun lahiran kedua ini saya berencana akan melahirkan di Bekasi saja, kota dimana kami tinggal, dan Ibu Mertua juga sudah bersedia untuk menunggui saya, suami senang karena bakal tidak ada acara bolak-balik Surabaya-Bekasi untuk bisa melihat istrinya yang cantik dan anaknya yang lucu ini.

Kehamilan kedua ini saya lalui sama seperti sebelumnya, selalu menjaga pola makan, istirahat cukup dan menghindari stres, semua berjalan normal dan saya menikmatinya.

Tanpa terasa usia kehamilan saya mulai masuk minggu ke 16 dan itu artinya sudah hampir 4 bulan ada janin yang tumbuh dan berkembang didalam rahim saya, sampai di titik itu saya merasakan luapan kegirangan setiap kali mengelus dan mencoba berinteraksi dengan si dedek didalam sana, masa-masa ngidam masih terus berlanjut, dan sebenarnya lumayan menyusahkan, apalagi terkadang saya mual dan muntah hebat disertai kaluar flek darah dari daerah intim.

Flek darah..? ya, itu yang saya rasakan diawal sebelum kiamat kecil buat saya dan suami.

Karena frekuensi keluarnya flek semakin sering, maski beberapa tetangga yang sudah memiliki banyak anak mengatakan kalau terkadang orang hamil ada yang mengalaminya, dan itu normal, tapi tetap saja saya kuatir.

Akhirnya saya inisiatif menemui kembali dokter kandungan ditempat saya biasa periksa, meskipun saat itu bukanlah jadwal saya harus kembali kontrol, tapi demi keamanan saya dan janin yang saya kandung saya dan suami rela antri hari itu.

Dan akhirnya saya harus mendengar kalimat perkalimat dari dokter dihadapan saya, yang sumpah.. saya sama sekali tidak mau mendengarnya, setelah melewati serangkaian tes akhirnya diketahui kalau janin didalam kandungan saya terserang virus Rubella, sekilas yang saya tahu virus ini didapat saat kita intens bersentuhan dengan kucing, atau hewan peliharaan berbulu.

Kembali saya telaah kebelakang rasa-rasanya tdak ada yang salah dengan pola hidup saya, apalagi Dokter juga mengatakan kalau virus rubella tidak melulu karena kesalahan kucing, karena saya bahkan tak punya kucing.

Keputusan sulit harus saya ambil  dan menerima resiko bayi lahir cacat, saya dan suami seperti diujung jurang saat itu,  tapi kami juga tidak tahu bagaimana dampaknya virus itu ke bayi kami dan juga ketubuh saya.

Hampir dua minggu saya dan suami benar-benar berada diposisi tersulit dari hidup kami, suami yang lebih mencoba untuk tegar dan tetap membujuk saya untuk tetap mengkonsumsi makanan sehat dan berpikir positif, dan menghindarkan saya dari kalimat yang mungkin saja bisa terucap dari bibir saya..


“Ya Allah.. kenapa harus aku?”


Hingga pada akhirnya di satu malam, 15 hari setelah diagnosa itu saya merasakan nyeri hebat diperut dan darah keluar banyak sekali, suami langsung membawa saya ke Rumah Sakit, dan saya langsung mendapat penanganan.

Allah pun menjawab teka-teki yang diciptakanNYA sendiri, ternyata janin dalam kandungan saya keguguran karena memang tidak berkembang dan tidak bisa dipertahankan, sedih.. pasti, saya kembali merunut dan berharap tidak ada satupun do’a saya yang menginginkan kematian bayi saya, dan semoga saja begitu.

Kami berdua sudah membuat garis start untuk mencintai anak-anak kami bahkan saat mereka masih dalam angan-angan kami dan kami tak pernah membuat garis finishnya meski mereka sudah tiada.

Dan dimalam itu juga saya melakukan kiret atau pembersihan sisa janin didalam rahim, dalam keadaan dibius total, saat sadar saya merasakan sedikit nyeri diperut, seperti orang yang habis tertonjok rasanya, sehari kemudian Dokter memperbolehkan saya pulang dan menyarankan kami kontrol satu minggu kemudian.

Di hari kontrol Dokter menyarankan saya melakukan vaksinasi untuk mencegah virus rubella bila ingin kembali hamil dan mendapatkan kehamilan yang sehat, meski ada beberapa pendapat yang mengatakan kalau seseorang sudah pernah terserang virus rubella maka akan kebal dan tidak akan terserang lagi, tapi saya pilih rekomendasi Dokter untuk mendapatkan vaksin anti rubella.

Ternyata saya baru tahu kalau virus jenis ini bisa dicegah dengan vaksin yang diberikan saat kita merencanakan kehamilan, karena dampak yang ditimbulkan si rubella ini sangat serius bila terkena Ibu hamil, sang anak akan lahir cacat seperti tuli, katarak atau kerusakan otak.

Alhamdulillah setelah 3 bulan kemudian saya kembali hamil anak  ketiga , saya dan suami seperti kembali mendapat anugerah karena kami tidak mau menyebutnya pengganti, Allah tak pernah mengambil apapun dari kami karena itu memang milikNYA.

Dan setelah sebelas tahun lebih kenangan akan virus itu masih tetap saya dan suami simpan, kami bahkan sudah memberi nama bayi yang tidak bertahan itu, yaitu Husain bila laki-laki dan Hanuna bila perempuan, semoga Husain atau Hanuna menjadi penyambut kami dipintu sorga nanti.





14 komentar:

  1. "...semoga Husain atau Hanuna menjadi penyambut kami dipintu sorga nanti."
    amin.. mbak kalau vaksin buat TORCH itu bertahan berapa lama ya? Tiap berapa periode harus diberi vaksin itu? atau cukup sekali seumur hidup?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang saya tahu sekali terkena atau tervaksin rubella biasanya tidak akan kena lagi.

      Hapus
  2. amin Mba.. saya baca ini beneran nangis loh.. apapun itu selalu yang terbaik untuk umatNya ya Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya saya enggak pernah nulis yang sedih-sedih..

      Hapus
  3. hiikss...ada kisah ini toh..baru tahu..inshaallah karena mampu maka diberi cobaan ya mbak lub..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada eda... dan aku simpen ga mau inget-inget.

      Hapus
  4. smangat mba lub, semoga selalu diberi kesehatan untuk anak anak dirumah dan jika hamil lagi. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada. win.. makanya kalau kamu lagi hamil kayak sekarang nih.. harus hati-hati..hehehe

      Hapus
  5. hiks...
    tetep cemunguut maak :D

    BalasHapus
  6. Ujian memang tidak pernah disangka ya Mba. Tapi Allah segera kasih penggantinya. Sehat terus Mba, semangat...

    BalasHapus
  7. Selalu sedih kalo mendengar cerita keguguran atau bayi meninggal. Mg Husain dan Hanuna menjadi tabungan Mbak Lub dan suami di surga ya. Sehat selalu :)

    BalasHapus
  8. Segala yang pedih dan pahit telah digantikan oleh Allah Swt -- kehamilan kedua hilang terganti oleh lahirnya buah hati yang ketiga dan keempat, kan? Alhamdulillah, Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang.

    BalasHapus