Jumat, 04 Desember 2015

Mengajari Anak Cara Bersyukur



Beberapa waktu yang lalu saya mengalami satu musibah, enggak serius sih.. tapi cukup membuat hati ini sedih, pasalnya sepeda  anak kedua saya Ali hilang entah kemana, seharian kami mencarinya di semua sudut gang dilingkungan kami tapi tak juga ketemu dan akhirnya saya dan Ali harus pasrah kalau sepeda itu memang benar-benar hilang.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan sepeda itu, beberapa bulan yang lalu saya mendapatkannya dari salah satu undian susu kemasan, dengan hanya mengirimkan 5 buah amplop undian, tapi memang dasarnya rejeki, dari kelima amplop itu salah satunya keluar sebagai pemenang dan mendapatkan sepeda yang kalau diuangkan nominalnya lumayan, sekitar 900 ribuan, lumayan kan?

Tapi mungkin karena cara mendapatkan sepeda itu begitu mudahnya, istilahnya hanya bermodal tak lebih dari 20 ribu dapat sepeda, hal ini yang membuat anak saya Ali sedikit meremehkan keberadaanya, apalagi warna cat sepeda itu juga dirasa kurang sreg dihati.

Berkali-kali Ali terkesan ogah-ogahan dengan sepeda itu, bahkan beberapa kali dia seperti sengaja meninggalkannya di masjid saat pulang sholat, atau kadang iseng tukeran sepeda dengan temannya yang kalau saya lihat sepedanya tak lebih bagus dari milik Ali.

Dan akhirnya bencana itu datang, suatu pagi kami baru menyadari kalau sepeda hadiah itu hilang, seperti lirik sebuah lagu :

Bila sudah tiada ..baru terasaaaa

Beberapa hari Ali akhirnya hidup tanpa sepeda dan itu merupakan siksaan buat dia, karena memang dia kemana-mana harus bergoes ria, sekolah, ngaji, ataupun main, selalu lengket dengan sepeda yang awalnya tidak dianggap itu, 

Sedih sudah pasti, saya juga, apalagi saya sengaja tidak langsung membelikan sepeda yang baru untuknya, sedikit memberikan pelajaran tentang arti memiliki dan bersyukur atas apa yang kita miliki sepertinya tepat sekali saya terapkan pada Ali di saat ini, 

Saya tak perlu mengomel panjang lebar, yang saya yakin juga engak bakal didengar atau mungkin enggak masuk kepengolahan data diotaknya kalau terlalu banyak kata yang saya keluarkan, jadi saya membiarkan keadaan yang mengajarinya untuk lebih menghargai sesuatu.

Sebenarnya kasihan juga melihat Ali luntang-lantung tanpa sepedanya buat beberapa hari, tapi saya bertekad untuk tetap menunda membelikannya sepeda baru untuk sekitar seminggu kedepan, dan sambil sesekali saya ingatkan betapa berjasanya sepeda yang hilang itu buat dia.

Setelah seminggu penuh kesuntukan dengan tanpa sepeda dan hanya membonceng temannya yang punya sepeda, akhirnya saya merasa pelajaran ini cukup, setelah bernegosiasi dengan menambahkan jumlah ayat Al-Qur'an yang harus dibacanya setiap hari akhirnya kami membuat kesepakatan untuk membelikan Ali sepeda.

Saya berpikir ternyata kadang anak juga perlu dikenalkan dengan arti kehilangan agar mereka bisa mensyukuri apa yang telah mereka miliki, dan selalu menyediakan apa yang mereka inginkan bukanlah bentuk kasih sayang tapi hanya membuat mereka manja dan lupa bersyukur.

Dari hilangnya sepeda itu saya dan Ali mendapat banyak pelajaran, Ali mendapatkan pelajaran tentang arti bersyukur dan sakitnya kehilangan, saya juga mendapat pelajaran bagaimana mengajarkan anak lebih mensyukuri apa yang dimiliki, terus belajar dan semakin merasakan menjadi Mama itu seru.





16 komentar:

  1. Mamanya pinter nih.. Hukumannya dgn membaca Al Quran ya. Memang kalo dapatnya mudah, jadi malas menjaganya. Tfs, maa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal kalau sudah hilang sedihnya minta ampun..;)

      Hapus
  2. Pengalaman tetep guru yg terbaik ya mak....

    BalasHapus
  3. Anak-anak memang harus diajari bersyukur sejak dini agar menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat itu berasal dari Tuhan.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  4. Wah, negosiasi dengan "nambah ayat Al-Qur'an yang harus dibaca" itu terhitung luar biasa, mendidik sekaligus ngajarin berkomitmen. Pelajaran bersyukur emang paling pas didapet dari pengalaman, dengan begitu kita bisa ngambil hikmahnya langsung. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas.. anak-anak kalau ada targetnya biasanya semangat.

      Hapus
  5. Duh, bila sudah tiada akan terasa itu makjleb banget ya Mbak. Semoga mendapat gantinya ya, Ali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin.. Alhamdulillah sudah dapat meski engak sebagus yang hilang :)

      Hapus
  6. Mungkin karena dapatinnya mudah, ya? Tapi menunda membeli sepeda sangat mendidik lho. Mengajari dia menghargai dan bersabar. :)

    BalasHapus
  7. Cara yang bagus banget ya mba, inspiratif banget tulisannya.

    BalasHapus
  8. Cara yang bagus banget ya mba, inspiratif banget tulisannya.

    BalasHapus
  9. mak lubena keren...cara didiknya, hukuman yang kaya gitu lebih manfaat dari sekedar diomelin..ya, misnya harus hafal doa makan, hafal perkalian dll..
    inspiratif ...

    BalasHapus
  10. Wah, keren sekali cara ibu mengajari Ali untuk bersyukur. Salut :)

    BalasHapus
  11. Wah, keren sekali cara ibu mengajari Ali untuk bersyukur. Salut :)

    BalasHapus