Minggu, 01 November 2015

Memilih Berdamai Dengan Kanker Ala CISC

Dr.Alifia dan Mbak Yuniko

 Memilih berdamai dengan kanker. Beberapa waktu yang lalu di blog ini saya pernah menulis tentang kanker dan penanganannya, yang mau tahu coba cek kembali disini.

Kali ini tulisan saya bukan mengenai apa itu kanker, tapi lebih ke bagaimana bisa dengan ikhlas dan legowo menerima keputusan Allah kalau kita menjadi salah satu pengidap kanker, disini saya juga mau mengenalkan satu klub komunitas yang berisi para survifor pengidap kanker terutama kanker payudara yaitu CISC ( Cancer information & Support Center)

Sabtu 30 Oktober kemarin saya diundang oleh Liputan6 untuk acara talkshow yang membahas tentang kanker, sebenarnya ini bukan kali pertama saya hadir diacara talkshow yang membahas sel mengerikan ini, tapi ada satu yang istimewa kali ini saya berkenalan dengan CISC, satu komunitas nirlaba yang memberikan informasi dan dukungan kepada para pasien pengidap kanker payudara.

Hadir di acara itu Dr. Alfiah Amirudin, MD, MS Konsultan ahli bedah payudara dan dari CISC diwakili oleh Mbak Yuniko, menurut Dr. Alfi Indonesia termasuk tertinggal dalam urusan penanganan kanker payudara dibanding negara-negara tetangga, istilahnya kita ini main distadium 3-4 saat pasien baru terdeteksi, sedangkn ambil contoh negara Thailand yang rata-rata pasiennya memeriksakan dirinya saat kankernya masih distadium 1-2.

Dr.Alfi juga menjelaskan kalau kanker payudara tak hanya monopoli kaum perempuan saja ternyata, 1% pengidap kanker ini adalah laki-laki, saya juga sempet ngobrol dengan Mas Willy yang mengidap kanker payudara dan harus menjalankan operasi pengangkatan payudara dan menjalankan kemoterapi berkali-kali.

Menerima kenyataan kalau seorang pasien mempunyai sel kanker yang hidup dipayudaranya adalah hal yang sangat berat untuk diterima *kebayang donk.. untuk itulah peran CISC disini sangat berarti, ada sejak tahun 2003 sebagai bentuk keprihatinan atas banyaknya informasi yang menyesatkan yang banyak diterima para pasien pengidap kanker, mitos yang bertebaran tentang penyembuhan penyakit kanker payudara yang diluar medis ini bisa menghambat pengobatan yang seharusnya dilakukan penderita kanker, karena sel kanker ini berkembang sangat cepat.

Tugas utama CISC yang didirikan oleh Aryanthi Baramuli ini adalah memberikan support dan informasi yang benar secara medis yang memang sangat dibutuhkan oleh penderita kanker, kegiatan rutinnya adalah mengadakan support group setiap bulan dengan mengambil tempat di beberapa Rumah Sakit di Jakarta, selain itu CISC memiliki rumah singgah yang bisa dimanfaatkan para pasien kanker yang tengah melakukan pengobatan.

Dengan anggota yang juga sama-sama mengidap kanker membuat CISC lebih mudah meakukan pendekatan dengan para pasien, karena memang melakukan operasi pengangkatan payudara, kemoterapi dan penyinaran radiasi itu sangat berat, dan sangat dibutuhkan support dari orang-orang yang mengerti akan keadaan si pengidap kanker.

CERDIK upaya pencegahan kanker payudara

Di CISC ada satu istilah yang digunakan untuk memudahkan masyarakat awam untuk lebih waspada akan bahaya kanker, yaitu dengan CERDIK :

  • Cek rutin kesehatan
  • Enyahkan asap rokok
  • Rajin olahraga
  • Diet seimbang
  • Istirahat yang cukup
  • Kelola stress 
6 poin penting ini mereka terapkan lewat video animasi yang mudah dicerna oleh yang menontonnya, selain itu juga ada satu video tentang bagaimana melakukan SADARI atau melakukan cek diri sendiri, melalui gerakan-gerakan yang sederhana untuk mengetahui apakah ada kelainan di payudara.

Selain mendengarkan penjelasan dari Dr.Alfi dan Mbak Yuniko diatas panggung, kami juga diajak berdiskusi dengan para survivor kanker anggota CISC, saya berkesempatan ngobrol dengan Mas Willy yang tadi saya ceritakan si pria macho dengan kanker payudara itu lho.. :)

Suasana grup diskusi , grup saya bersama Mas Willy


Mas Willy menceritakan awalnya hanya ada satu benjolan seujung kuku di dada sebelah kanannya di bulan Maret 2013 dan awalnya dia kira itu hanya bisul tapi 4 bulan kemudian benjolan yang dia anggap enggak berbahaya itu sudah sebesar telur ayam dan rasanya nyeri sekali, saat diperiksa Dokter mengatakan kalau itu kanker payudara, dan menyarankan untuk mengangkatnya, setelah pengangkatan masih harus dilanjutkan dengan kemoterapi, dan itu benar-benar menyiksa katanya, dia harus menjalankan 8 kali kemo, dan itu artinya 8 kali penderitaan itu berulang.

Ubah mindset untuk menjalankan pengobatan

Masih dari cerita mas Willy tentang kemo yang menyiksa itu, ternyata dia menemukan cara jitu untuk mengubahnya, yaitu dengan mengubah mindsetnya, dia anggap obat kemo yang masuk ketubuhnya itu adalah jus mangga kesukaannya, dan efeknya tubuhnya menerima hal itu dan siksaan selama dan sesudah kemo tidak begitu dia rasakan, bahkan dia masih bisa jalan-jalan setelah melakukan kemoterapi, yang seperti ini saya tak akan percaya kalau tidak mendengarnya sendiri dari yang bersangkutan, ternyata mengubah mindset kita seperti menghipnotis diri sendiri yah..

Satu hal yang saya tarik dari acara itu betapa para anggota CISC itu bisa masih tetap bisa bergembira padahal suatu saat sel kanker yang sudah mereka buang dari tubuhnya suatu saat bisa saja datang kembali, tapi seperti kata mas Willy tadi sekarang sudah waktunya berdamai dengan kanker dan menghadapinya dengan penuh keikhlasan, dan yakin kalau dengan do'a dan pengobatan yang tepat para survivor kanker itu masih bisa bertahan dan menjalankan kehidupannya dengan baik.

Para cancer survivor dari CISC

Saya dan Mbak Yuniko






Tidak ada komentar:

Posting Komentar