Sabtu, 05 September 2015

Masalah itu Bernama Poligami

Masalah itu bernama poligami, ramai sekali orang membicarakan tentang poligami gegara status seorang cewe yang cukup menyulut hati ibu-ibu yang membacanya, saya yang ikutan baca sebenarnya ikut gemes juga, nih anak koq bisa seenaknya aja tulis status yang bikin kuping eh mata merah yang ngebacanya.


Tapi sebenarnya saya baru sadar, hey.. disekitar saya juga banyak lho laki-laki yang berpoligami, bahkan teman-temanku disekitar rumah juga istri yang kesekian dari satu suami, so enggak ada salahnya nih kalau saya bikin survey kecil-kecilan dan nulis diblogku ini buat berbagi, paling enggak nikmati sesaat atmosfer poligami saat membaca tulisan ini.

Jujur saya enggak pernah menganggap kalau poligami ini masalah serius, karena orang-orang yang terlibat yang juga tetanggaku ini hampir enggak pernah berkonflik, enggak ada itu acara labrak melabrak, meski satu istri dengan istri yang lain tinggal lumayan berdekatan, inilah yang membuat saya tak pernah menyadari kalau mereka berada dalam posisi yang komplek yaitu istri yang dipoligami, dan anak-anak mereka dari Ibu yang berbeda-beda malah rukun-rukun aja tuh, dan akrab banget stu sama lain.

Sasaran surveyku yaitu si Mbak Mawar, bukan nama asli sih..hehe koq jadi mirip acara investigasi di tivi yah, saya pilih karena dia termasuk istri yang dipoligami, dan uniknya istri mudanya usianya lebih tua dari dia dan seorang janda, dan juga dia yang paling dekat rumahnya sama saya, dan juga cees sih, jadi klop kan.

Sengaja saya datang kerumahnya sore hari, bukannya apa sih jam segitu kan kerjaan emak-emak udah kelar semua, rumahnya rapi meskipun tidak besar, hampir semua fasilitas ada meski sederhana, lengkap lah istilahnya, dan itu kita anggap kalau kebutuhan lahir si Mbak ini terpenuhi, pas ketemu saya juga lihat wajahnya cerah dan itu artinya kebutuhan batinnya terpenuhi donk, sory kalau yang ini murni asumsiku sendiri hehe..

Saya ingin tahu pandangan dia tentang poligami, apalagi dia yang terlibat langsung, ternyata jawabannya cukup membuat saya tercengang-cengang.

“Poligami itu seperti ibadah sunnah yang lain buat saya, seperti sholat malam dan puasa sunnah, berat memang tapi besar pahalanya, kalau ada yang bilang poligami menyusahkan, pun demikian dengan sholat malam yang membuat jam tidur kita enggak karuan, puasa juga membuat kita jadi kekurangan nutrisi kan? Itu kalau menurut orang yang memang enggak niat melakukannya’ ini penjelasan si Mbak yang saya pengen korek.

“ tapi Mbak, poligami itu kan kesannya seperti mendholimi kaum wanita yah Mbak?” bantahku

“ Lebih mendholimi mana wanita yang tak dipoligami tapi dia harus kerja pontang-panting dan suminya melimpahkan tanggungjawabnya sebagai pencari nafkah kepada istri yang katanya tercinta, dan satu-satunya?” lha si Mbak ini malah balik bertanya, yang terus terang aku enggak bisa jawab.

“ Media koq mama hasnah yang membuat kita membenci apa yang diperbolehkan Allah, media juga yang membuat kita menyukai yang Allah laknat, apalagi istilah ‘nikah lagi’ sepertinya lebih menakutkan buat istri-istri dibanding ‘zinah lagi’, seorang ustadz yang menikah lagi dihujat habis-habisan tapi giliran artis berpacaran sampai hamil dibilang memperjuangkan cinta sejati, lha wong media yang mengajarkan seperti itu koq dan kita kita dibesarkan dengan cara seperti itu, jadi ya wajarlah”  jelasnya .

“tapi poligami membuat istri kesannya enggak bisa merawat dan menjaga suami dengan baik Mbak?” saya berusaha menyudutkannya.

“ Oalah Mama hasnah koq kayaknya kita repot banget yah kalau harus menjaga agar suami kita tidak memikirkan perempuan lain, dia bukan milik kita, kita perempuan inilah milik dan perhiasan buat dia, sudah seharusnya dia menjaga dan merawat kita, karena kita ini hadiah buat mereka, itulah makanya saya enggak pernah kemana-mana sendiri, meski mobil pinjaman, suami saya selalu setia mengantar kemana saya pergi, bukan tidak mandiri tapi saya merasa berharga lho diperlakukan seperti ini “ akunya sambil tersenyum.

“Tapi banyak lho Mbak poligami yang membuat keluarga berantakan” masih saya kejar juga sih..

“ Itu bukan yang diajarkan islam mama hasnah, dan hanya mengandalkan nafsu, juga biasanya dilakukan oleh suami yang memang tidak seharusnya berpoligami, suami yang siap berpoligami harusnya bisa berlaku adil dengan istri-istrinya ” terangnya.

Saya juga pernah mendengar kalau suaminya pernah berjalan kaki lebih dari 5 KM malam-malam karena datang kerumahnya karena memang hari itu waktunya si suami berada dirumahnya.

Dari percakapan kami saya sadar kalau poligami memang ada dan Allah memperbolehkan, tapi selama dilakukan dikoridor dan orang yang tepat.

Pas mau pamit pulang dia menambahkan “ suami yang baik itu bukan yang berpoligami atau hanya beristri satu tok lho Mama hasnah, tapi suami yang bisa membuat istrinya nyaman dan merasa berharga, Abinya Hasnah kayak gitu khan InsyaAllah ?” tanyanya menggoda.

Hehe.. iyalah suamiku gitu lho.. tapi enggak usah berpoligami juga kali Mbak lha wong sholat malam dan puasa sunnahku masih acakadut gitu, bisa kurus badan hamba.

Masalah poligami ini memang pilihan dan butuh hati yang sangat atau terlalu ikhlas untuk bisa menerimannya



8 komentar:

  1. Harus paham syariah dulu, suami dan isteri-isterinya, plus mengamalkannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, hanya orang-orang tertentu sebenarnya yah..

      Hapus
  2. mindset mempengaruhi sikap terhadap poligami lebih kuat di Indonesia daripada dogma agama :)

    Salam kenal, Mbak
    Saya dari Yogyakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.. salam kenal juga ;)
      iya benar, terus terang mindset saya juga sedikit bergeser setelah obrolan saya berakhir dengan Mbak ini..

      Hapus
  3. iya poligami itu ky pisau bermata dua.. harus bijak bgt menghadapinya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget, kalau enggak ngerti sebaiknya enggak melakukan.

      Hapus
  4. poligami lagi..lagi selalu ramai ya, aku sih silahkan balikkin lagi pada pelakunya.
    cuma terkadang suka di salah gunakan hihihi...
    *ya begetolah laki2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe.. namanya juga topik yang lagi kekinian

      Hapus